Senin, 22 Juni 2009

Makan es Mie

Posted by Picasa

Selasa, 12 Agustus 2008

KAMBING DAN KACAMATA

Namanya Mbah Min, 'Blantik wedus' (makelar kambing), yang setiap senin pagi menjual kambing di pasar kambing desa Sugio, Lamongan. Mbah Min sangat pintar menaksir harga kambing. Selama ini selalu laba kalau jual kambing.
Suatu hari penampilan Mbah Min agak lain. Di wajahnya telah bertengger kacamata putih, ber-frame coklat kekuningan. Yang katanya sih, pemberian adiknya yang sudah ganti kaca mata. Yang aneh, cara berjalan dan cara merokoknya juga agak berbeda. Dimirip-miripkan adiknya yang jadi pegawai kecamatan. Kepala lebih tegak dan ketika mengambil rokok, tanganya dibuang melebar ke samping. Pokoknya, sekarang dimirip-miripkanlah dengan orang-orang terpelajar dan pejabat setempat.
Hari itu minggu pagi. Mbah Min belum juga dapat kambing. Dengan sepeda pancal dan 'ronjot' (tempat barang dua sisi khusus untuk sepeda pancal), ia berkeliling dari desa ke desa. Tak lupa, kaca mata menempel gagah di matanya. Di pinggir hutan dekat Lawangan Agung, ia berhenti. Ada sekawanan kambing gemuk-gemuk sedang di 'kawar' (tali yang melingkar dileher kambing diikat pada patok kayu).
"Wah, besar-besar kambing ini. Pasti untung besar kalau aku jual" pikir Mbah Min. Mbah Min sudah bau uang dengan melihat kambing-kambing itu. Ditawarlah kambing itu. Terus dibawa pulang. Ia sangat senang karena menemukan harga yang murah. Sudah terbayang laba 20 ribu per ekor di kepalanya.
Esoknya Mbah Min menjual kambin itu ke pasar hewan. Anehnya, sudah setengah hari, tidak ada harga yang cocok. Kata blantik yang lain "kambing kecil kurus begini dijual begitu mahal?". Yang lain menyahut, "kacamatanya Mbah, dilepas. Biar tahu."
Akhirnya Mbah Min sadar, setelah dilepas kacamata itu, ternyata benar kambing-kambingnya jadi kecil. Linglunglah bandannya. kambingnya sudah tidak bahu uang lagi. Hilang sudah 40 ribu didepan mata.
"Wah gara-gara kaca mata ini, ternyata. Ndak apa-apa, saya harus terbiasa". Maka dipakailah lagi kaca mata itu. Rupanya saat itu, Mbah Min ingin pipis. Ia langsung lari ke pinggir sungai kecil sebelah pasar hewan. Tiba-tiba ia teriak, "tolong, manukku, manukku aboh guede". Orang-orang di pasar berlarian membantu Mbah Min yang pingsan karena kaget melihat burungnya jadi besar di kira kena setan. Setelah sadar dan bercerita, orang-rang disekitarnya tertawa lebih keras dan lebih keras lagi. "kacamatanya Mbah, dilepas. Biar tahu."